CATWALK London menawarkan opsi baru bagi para penikmat mode. Tidak lagi menyajikan barisan model bertubuh ramping semampai dengan kaki panjang sebagai fokus utama perhatian di panggung mode, melainkan juga model-model bertubuh bongsor ataupun yang memiliki ukuran tubuh plus.Mark Fast, salah seorang desainer yang antusias terhadap project tersebut mengatakan,kehadiran model-model dengan ukuran tubuh plus bisa memperbesar jangkauan pasar.
"Selama ini, yang dilihat konsumen di atas catwalk adalah model-model ramping yang membawakan busana berukuran kecil, sementara konsumen dengan ukuran tubuh yang lebih besar harus puas dengan pilihan yang tersedia di toko. Dengan kehadiran model bertubuh plus di catwalk, ada target konsumen lain yang bisa kita jangkau dan saya yakin hal itu akan berdampak terhadap penjualan," terang Fast, yang menggunakan model berukuran 12 dan 14 di samping barisan model bertubuh langsing.
Namun, bukan berarti langkah radikal Fast berjalan mulus, buktinya stylist dan desainer kreatif yang seharusnya bekerja bersama Fast dalam pertunjukannya di Pekan Mode London, merasa kecewa dengan keputusan desainer busana rajut itu dan memutuskan untuk berhenti.
Kekurangan staf hanya beberapa hari sebelum pertunjukkan, Fast pun dihadapkan pada kenyataan bahwa pertunjukannya bisa jadi mundur dari jadwal. Untunglah dua desainer magang Daniela Agnelli dan Natalie Hubbarb datang membantu. Sukses bagi Fast, pertunjukannya berlangsung gemilang. Tamu undangan, buyer, dan pihak media menganggap Fast menghadirkan pertunjukan yang semarak dan mampu memberikan alternatif yang lebih luas terhadap konsumen.
Industri mode Inggris sendiri sebenarnya telah menetapkan standar baru mengenai penggunaan model-model catwalk berkenaan dengan isu anoreksia yang berkembang di dunia fashion, yang juga dipicu terjadinya beberapa kasus kematian model-model berukuran tubuh nol, akibat masalah kesehatan termasuk anoreksia.
Tahun ini, London Fashion Week melakukan seleksi yang lebih ketat terhadap model, salah satunya dengan menetapkan standar massa tubuh yang lebih tinggi dan melarang menggunakan model di bawah umur.
Adapun pakar kejiwaan yang fokus terhadap kelainan pola makan dari Institute of Psychiatry Professor Ulrike Schmidt menyarankan agar selain menetapkan standar massa tubuh, penyelenggara London Fashion Week seharusnya melakukan pemeriksaan medis termasuk kejiwaan bagi para model.
"Dengan begitu, jika ada model yang mengalami gangguan pola makan bisa ditangani dengan cepat," terangnya.
Fast mengatakan, tujuannya menghadirkan model-model bertubuh plus dalam pertunjukannya karena dia ingin menunjukkan pada konsumennya bahwa bukan hanya mereka yang bertubuh ramping yang bisa mengenakan koleksinya.
"Mereka yang berukuran tubuh besarpun akan terlihat bagus dalam rancangan Mark Fast. Itu yang ingin saya sampaikan," ujarnya.
Fast pun berbuat lebih jauh dari itu. Dia menginginkan dunia mode berlaku lebih "ramah" terhadap konsumen berukuran tubuh plus. Karenanya, bekerja sama dengan agensi model 12+ UK, Fast menyelenggarakan pameran foto bertema "All Walks Beyond The Catwalk", yang memperlihatkan foto-foto model berusia 18-65 dengan variasi ukuran tubuh dari 8 hingga 16 dalam balutan busana para desainer muda London.
Sumber: okezone.com
"Selama ini, yang dilihat konsumen di atas catwalk adalah model-model ramping yang membawakan busana berukuran kecil, sementara konsumen dengan ukuran tubuh yang lebih besar harus puas dengan pilihan yang tersedia di toko. Dengan kehadiran model bertubuh plus di catwalk, ada target konsumen lain yang bisa kita jangkau dan saya yakin hal itu akan berdampak terhadap penjualan," terang Fast, yang menggunakan model berukuran 12 dan 14 di samping barisan model bertubuh langsing.
Namun, bukan berarti langkah radikal Fast berjalan mulus, buktinya stylist dan desainer kreatif yang seharusnya bekerja bersama Fast dalam pertunjukannya di Pekan Mode London, merasa kecewa dengan keputusan desainer busana rajut itu dan memutuskan untuk berhenti.
Kekurangan staf hanya beberapa hari sebelum pertunjukkan, Fast pun dihadapkan pada kenyataan bahwa pertunjukannya bisa jadi mundur dari jadwal. Untunglah dua desainer magang Daniela Agnelli dan Natalie Hubbarb datang membantu. Sukses bagi Fast, pertunjukannya berlangsung gemilang. Tamu undangan, buyer, dan pihak media menganggap Fast menghadirkan pertunjukan yang semarak dan mampu memberikan alternatif yang lebih luas terhadap konsumen.
Industri mode Inggris sendiri sebenarnya telah menetapkan standar baru mengenai penggunaan model-model catwalk berkenaan dengan isu anoreksia yang berkembang di dunia fashion, yang juga dipicu terjadinya beberapa kasus kematian model-model berukuran tubuh nol, akibat masalah kesehatan termasuk anoreksia.
Tahun ini, London Fashion Week melakukan seleksi yang lebih ketat terhadap model, salah satunya dengan menetapkan standar massa tubuh yang lebih tinggi dan melarang menggunakan model di bawah umur.
Adapun pakar kejiwaan yang fokus terhadap kelainan pola makan dari Institute of Psychiatry Professor Ulrike Schmidt menyarankan agar selain menetapkan standar massa tubuh, penyelenggara London Fashion Week seharusnya melakukan pemeriksaan medis termasuk kejiwaan bagi para model.
"Dengan begitu, jika ada model yang mengalami gangguan pola makan bisa ditangani dengan cepat," terangnya.
Fast mengatakan, tujuannya menghadirkan model-model bertubuh plus dalam pertunjukannya karena dia ingin menunjukkan pada konsumennya bahwa bukan hanya mereka yang bertubuh ramping yang bisa mengenakan koleksinya.
"Mereka yang berukuran tubuh besarpun akan terlihat bagus dalam rancangan Mark Fast. Itu yang ingin saya sampaikan," ujarnya.
Fast pun berbuat lebih jauh dari itu. Dia menginginkan dunia mode berlaku lebih "ramah" terhadap konsumen berukuran tubuh plus. Karenanya, bekerja sama dengan agensi model 12+ UK, Fast menyelenggarakan pameran foto bertema "All Walks Beyond The Catwalk", yang memperlihatkan foto-foto model berusia 18-65 dengan variasi ukuran tubuh dari 8 hingga 16 dalam balutan busana para desainer muda London.
Sumber: okezone.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar