BUNGA selalu menjadi penegasan kata cantik. Karena itu, wajar bila para desainer menggunakan corak floral untuk menghadirkan koleksi feminin bagi para muslimah.Kalimat "Say it with Flower" ternyata memiliki beragam makna. Pengungkapannya pun tidak selalu harus menggunakan buket bunga yang dirangkai cantik untuk sang kekasih, namun bisa juga melalui motif dan patchwork berbentuk bunga alias korsase. Seperti yang dilakukan para perancang busana muslim Indonesia. Mereka mengantarkan cinta bagi para konsumennya melalui corak floral nan feminin yang bisa jadi alternatif sebagai busana seharihari.
Salah satunya Ani Medina yang mempersembahkan koleksi feminin dengan motif bunga yang mendominasi rancangannya. Sekilas, rancangan pemilik label Medina ini memang tampak sarat sentuhan etnis. Namun, Ani dengan fasih menonjolkan motif bunga dari batik Cirebon yang penuh warna. Mempertegas kesan feminin, desainer asal Bandung ini menampilkannya dengan kombinasi brokat, tile, katun, juga aplikasi bordir.
Bukan hanya nuansa feminin yang ingin dihadirkan Ani, melainkan juga kesan muda dan segar. Karena itu, koleksinya didominasi warna-warna cerah seperti biru, hijau, kuning, cokelat, juga putih. Sementara teknik cutting yang mengadaptasi bentukan busana masa kini diambil Ani sebagai cerminan gaya dinamis yang dimiliki kaum muda. Meskipun begitu, aura jelita tetap dipertahankan melalui aksen tumpuk, ruffless, maupun kerut pada rancangan dengan siluet mermaid, A-line maupun H-line.
Berbeda dengan Dwi Endang Lestari yang lebih banyak bermain dengan warna serta aplikasi tiga dimensi. Menurut Dwi, koleksinya kali ini menggambarkan perjalanan hidup yang bagai pelangi. "Karena itu, saya menggunakan banyak gradasi warna dari nuansa lembayung hingga warna solid," ungkapnya. Seperti juga Ani, Dwi tetap mempertahankan sentuhan etnis dalam setiap koleksinya. Terlihat dari penggunaan bahan batik serta tenun ikat alat tenun bukan mesin (ATBM) yang berkolaborasi dengan material bercorak pakan lusi serta didukung nuansa modern denim. Hal itu, ujar dia, akan memperkaya khasanah busana muslim Indonesia. "Dengan begitu, masyarakat jadi lebih tahu kalau busana muslim bersifat fleksibel," tutur Dwi.
Batik Cirebonan pun jadi pilihan desainer yang memiliki gerai di wilayah Kopo, Bandung, ini untuk merefleksikan kesan etnis. Hanya saja, di beberapa bagian busana Dwi memfokuskan pada corak floral serta memadukannya dengan bahan lembut agar kesan feminin lebih terpancar. Lihat saja padanan tunik empire berhiaskan detail kerut dalam warna lembayung yang dipadankan bersama celana pipa dalam palet senada. Manis juga atraktif di saat bersamaan.
Lainnya, Dwi memberikan pilihan dalam siluet A-line yang dipermanis detail smook karet ataupun layering pelintir di pinggul maupun dada. Bentukan busananya yang variatif, ungkap Dwi, ditujukan bagi konsumen remaja hingga dewasa. "Saya memberikan pilihan, ragam jins dengan lapisan miniskirt bagi remaja putri sedangkan prianya celana denim yang dipadu batik bergaya kasual," jelasnya.
Nuansa yang lebih dewasa dihadirkan Tuti Kautsar. Alasan itu juga yang membuat dia banyak menggunakan adaptasi bentukan kebaya maupun luaran ala Timur Tengah. Dibanding kedua desainer sebelumnya, rancangan Tuti terlihat lebih gelap akibat penggunaan palet berlatar hitam maupun cokelat.
Sementara untuk kesan yang lebih kontras, Tuti menambahkan corak floral dalam warna lembut seperti ungu muda, hijau, pink, juga oranye.
Adapun Amy Atmanto, Shafira by Fenny Mustafa, Hennie Noer, dan Jeny Tjahyawati, memberikan corak floral yang lebih kontemporer. Mereka pun terlihat kompak menghadirkannya dalam palet lembut, seperti merah muda, jingga, kecokelatan, juga nuansa bunga merah di atas dasar putih.
Bila ingin tampil ultrafeminin, koleksi besutan Jeny bisa jadi pilihan tepat. Sementara tampilan elegan diwakili rancangan Amy Atmanto melalui label Royal Kaftan. Namun jika gaya unik yang jadi pilihan, ada baiknya mengintip desain Hennie Noer yang menawarkan pesona kaum gipsi dengan corak floral yang terpusat pada bagian pinggang serta jilbab.
Sumber: okezone.com
Salah satunya Ani Medina yang mempersembahkan koleksi feminin dengan motif bunga yang mendominasi rancangannya. Sekilas, rancangan pemilik label Medina ini memang tampak sarat sentuhan etnis. Namun, Ani dengan fasih menonjolkan motif bunga dari batik Cirebon yang penuh warna. Mempertegas kesan feminin, desainer asal Bandung ini menampilkannya dengan kombinasi brokat, tile, katun, juga aplikasi bordir.
Bukan hanya nuansa feminin yang ingin dihadirkan Ani, melainkan juga kesan muda dan segar. Karena itu, koleksinya didominasi warna-warna cerah seperti biru, hijau, kuning, cokelat, juga putih. Sementara teknik cutting yang mengadaptasi bentukan busana masa kini diambil Ani sebagai cerminan gaya dinamis yang dimiliki kaum muda. Meskipun begitu, aura jelita tetap dipertahankan melalui aksen tumpuk, ruffless, maupun kerut pada rancangan dengan siluet mermaid, A-line maupun H-line.
Berbeda dengan Dwi Endang Lestari yang lebih banyak bermain dengan warna serta aplikasi tiga dimensi. Menurut Dwi, koleksinya kali ini menggambarkan perjalanan hidup yang bagai pelangi. "Karena itu, saya menggunakan banyak gradasi warna dari nuansa lembayung hingga warna solid," ungkapnya. Seperti juga Ani, Dwi tetap mempertahankan sentuhan etnis dalam setiap koleksinya. Terlihat dari penggunaan bahan batik serta tenun ikat alat tenun bukan mesin (ATBM) yang berkolaborasi dengan material bercorak pakan lusi serta didukung nuansa modern denim. Hal itu, ujar dia, akan memperkaya khasanah busana muslim Indonesia. "Dengan begitu, masyarakat jadi lebih tahu kalau busana muslim bersifat fleksibel," tutur Dwi.
Batik Cirebonan pun jadi pilihan desainer yang memiliki gerai di wilayah Kopo, Bandung, ini untuk merefleksikan kesan etnis. Hanya saja, di beberapa bagian busana Dwi memfokuskan pada corak floral serta memadukannya dengan bahan lembut agar kesan feminin lebih terpancar. Lihat saja padanan tunik empire berhiaskan detail kerut dalam warna lembayung yang dipadankan bersama celana pipa dalam palet senada. Manis juga atraktif di saat bersamaan.
Lainnya, Dwi memberikan pilihan dalam siluet A-line yang dipermanis detail smook karet ataupun layering pelintir di pinggul maupun dada. Bentukan busananya yang variatif, ungkap Dwi, ditujukan bagi konsumen remaja hingga dewasa. "Saya memberikan pilihan, ragam jins dengan lapisan miniskirt bagi remaja putri sedangkan prianya celana denim yang dipadu batik bergaya kasual," jelasnya.
Nuansa yang lebih dewasa dihadirkan Tuti Kautsar. Alasan itu juga yang membuat dia banyak menggunakan adaptasi bentukan kebaya maupun luaran ala Timur Tengah. Dibanding kedua desainer sebelumnya, rancangan Tuti terlihat lebih gelap akibat penggunaan palet berlatar hitam maupun cokelat.
Sementara untuk kesan yang lebih kontras, Tuti menambahkan corak floral dalam warna lembut seperti ungu muda, hijau, pink, juga oranye.
Adapun Amy Atmanto, Shafira by Fenny Mustafa, Hennie Noer, dan Jeny Tjahyawati, memberikan corak floral yang lebih kontemporer. Mereka pun terlihat kompak menghadirkannya dalam palet lembut, seperti merah muda, jingga, kecokelatan, juga nuansa bunga merah di atas dasar putih.
Bila ingin tampil ultrafeminin, koleksi besutan Jeny bisa jadi pilihan tepat. Sementara tampilan elegan diwakili rancangan Amy Atmanto melalui label Royal Kaftan. Namun jika gaya unik yang jadi pilihan, ada baiknya mengintip desain Hennie Noer yang menawarkan pesona kaum gipsi dengan corak floral yang terpusat pada bagian pinggang serta jilbab.
Sumber: okezone.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar