HITAM sejak dulu menjadi andalan para wanita. Berkesan misterius, menambah keanggunan sekaligus memberi kesan langsing. Bagaimana cara yang tepat untuk memadukannya?Tidak bisa dimungkiri, warna hitam memiliki kelebihan tersendiri dibanding warna lainnya. Warna andalan ini memang mampu menyembunyikan "kekurangan" yang dimiliki penggunanya, cocok dikenakan dalam berbagai kesempatan, juga menambah kesan misterius sehingga tidak mungkin ditolak.
Meskipun begitu bila salah memadukannya, warna hitam bisa memberi kesan muram. Bahkan, jika dikenakan dalam kondisi hati yang galau, hitam justru memberi efek psikologis yang negatif. Jadi, diperlukan padu padan yang tepat saat ingin menggunakan warna universal ini. Hal yang sama juga berlaku dalam busana muslim.
Bila Anda menginginkan tampilan feminin dan elegan, tengok saja koleksi Ida Royani. Palet hitam pekat mendominasi rancangannya yang terinspirasi gaya berbusana masyarakat Timur Tengah. Karena itu, bentukan abaya, gamis, dan tunik panjang jadi pilihan desainer yang sebelumnya berprofesi sebagai artis ini. Nuansa feminin terlihat jelas dari detail payet berwarna kontras yang melingkari pinggang, leher, serta lengan. Garis rancangan yang sengaja dibuat longgar justru jatuh dengan lembut dan memberi efek ramping.
Sementara potongan asimetris pada koleksi tunik yang dipadu celana berpipa sempit menampilkan kesan kontemporer. Koleksi yang lebih dinamis ditampilkan Iva Lativah, dasar hitam justru menjadi latar yang kuat bagi detail yang ingin ditonjolkan ketua Ikatan Perancang Busana Muslim (IPBM) ini. Menurut dia, "tabrak" warna dan motif yang dibuat menjadi satu kesatuan akan menimbulkan gaya yang menarik dan dinamis. "Saya menggunakan sentuhan ragam batik di atas sutra ATBM hitam untuk menggambarkan perbedaan yang tetap harmonis," sebutnya.
Menyambut Lebaran Idul Adha tahun ini, Iva memberikan pilihan busana dengan siluet H-line dalam padu padan tunik, celana pipa, juga rok panjang. Lainnya, terusan bergaris "A" dengan permainan garis, lipit, juga potongan asimetris mewarnai koleksinya.
Adapun Ning Zulkarnain menawarkan sentuhan yang berbeda dengan menggunakan motif hewan laut sebagai detail busananya. Hal itu, menurut desainer asal Bandung ini, didasarkan pada kekayaan biota laut dan pesona alam laut Jawa Barat yang menjadi inspirasinya.
Sementara brand busana muslim asal kota kembang, La Viana, menampilkan gaya maskulin melalui koleksi yang mengadaptasi bentukan busana Cavalier dan Victorian. Warna hitam tidak menjadi kekuatan utama, melainkan berpadu harmonis dengan putih maupun perak. Menciptakan gaya androgyny yang cenderung futuristis. Cocok bagi mereka yang menginginkan busana kerja formal, tetapi ingin tampil lebih ekspresif.
Tidak jauh berbeda, Yanna Diah Kusumawati juga membawa nuansa maskulin. Namun, ditampilkan dalam gaya yang lebih kasual. Kulit jadi pilihan desainer yang baru dua tahun berkecimpung di bidang rancang busana muslim ini. Karena itu, gaya bikers terlihat menjadi karakter utama meskipun tampil unik saat berpadu kain batik dan atasan yang mengadopsi bentukan kebaya encim. Unik, chic, dan tentu saja bergaya muda. Penampilan yang lebih rumit dihadirkan Toera Imara dan Fenny Sofia. Keduanya tampaknya ingin memasukkan segala unsur busana dalam rancangannya. Meskipun begitu, kedua anggota IPBM tersebut sukses menampilkan koleksi cantik dalam palet hitam berpadu putih.
Gaya klasik dipilih Fenny Sofia. Desainer yang memiliki workshop di daerah Kiara Condong, Bandung, ini mengaku terinspirasi suasana romantis Desa Sampireun, Garut. Dia kemudian menuangkannya dalam bentukan klasik yang sarat detail, seperti embroidery dan kombinasi bahan lembut untuk memunculkan kesan romantis.
Sementara Toera Imara ingin mengangkat kesenian wayang golek yang eksotis dan penuh dengan aneka detail. "Semua itu mencerminkan kesenian khas Jawa Barat yang penuh pesona," tuturnya. Untuk itu, Toera banyak menggunakan aplikasi embroidery selain frills, ruffles, pleats, dan lace yang menjadikan rancangannya terlihat glamor.
Sumber: okezone.com
Meskipun begitu bila salah memadukannya, warna hitam bisa memberi kesan muram. Bahkan, jika dikenakan dalam kondisi hati yang galau, hitam justru memberi efek psikologis yang negatif. Jadi, diperlukan padu padan yang tepat saat ingin menggunakan warna universal ini. Hal yang sama juga berlaku dalam busana muslim.
Bila Anda menginginkan tampilan feminin dan elegan, tengok saja koleksi Ida Royani. Palet hitam pekat mendominasi rancangannya yang terinspirasi gaya berbusana masyarakat Timur Tengah. Karena itu, bentukan abaya, gamis, dan tunik panjang jadi pilihan desainer yang sebelumnya berprofesi sebagai artis ini. Nuansa feminin terlihat jelas dari detail payet berwarna kontras yang melingkari pinggang, leher, serta lengan. Garis rancangan yang sengaja dibuat longgar justru jatuh dengan lembut dan memberi efek ramping.
Sementara potongan asimetris pada koleksi tunik yang dipadu celana berpipa sempit menampilkan kesan kontemporer. Koleksi yang lebih dinamis ditampilkan Iva Lativah, dasar hitam justru menjadi latar yang kuat bagi detail yang ingin ditonjolkan ketua Ikatan Perancang Busana Muslim (IPBM) ini. Menurut dia, "tabrak" warna dan motif yang dibuat menjadi satu kesatuan akan menimbulkan gaya yang menarik dan dinamis. "Saya menggunakan sentuhan ragam batik di atas sutra ATBM hitam untuk menggambarkan perbedaan yang tetap harmonis," sebutnya.
Menyambut Lebaran Idul Adha tahun ini, Iva memberikan pilihan busana dengan siluet H-line dalam padu padan tunik, celana pipa, juga rok panjang. Lainnya, terusan bergaris "A" dengan permainan garis, lipit, juga potongan asimetris mewarnai koleksinya.
Adapun Ning Zulkarnain menawarkan sentuhan yang berbeda dengan menggunakan motif hewan laut sebagai detail busananya. Hal itu, menurut desainer asal Bandung ini, didasarkan pada kekayaan biota laut dan pesona alam laut Jawa Barat yang menjadi inspirasinya.
Sementara brand busana muslim asal kota kembang, La Viana, menampilkan gaya maskulin melalui koleksi yang mengadaptasi bentukan busana Cavalier dan Victorian. Warna hitam tidak menjadi kekuatan utama, melainkan berpadu harmonis dengan putih maupun perak. Menciptakan gaya androgyny yang cenderung futuristis. Cocok bagi mereka yang menginginkan busana kerja formal, tetapi ingin tampil lebih ekspresif.
Tidak jauh berbeda, Yanna Diah Kusumawati juga membawa nuansa maskulin. Namun, ditampilkan dalam gaya yang lebih kasual. Kulit jadi pilihan desainer yang baru dua tahun berkecimpung di bidang rancang busana muslim ini. Karena itu, gaya bikers terlihat menjadi karakter utama meskipun tampil unik saat berpadu kain batik dan atasan yang mengadopsi bentukan kebaya encim. Unik, chic, dan tentu saja bergaya muda. Penampilan yang lebih rumit dihadirkan Toera Imara dan Fenny Sofia. Keduanya tampaknya ingin memasukkan segala unsur busana dalam rancangannya. Meskipun begitu, kedua anggota IPBM tersebut sukses menampilkan koleksi cantik dalam palet hitam berpadu putih.
Gaya klasik dipilih Fenny Sofia. Desainer yang memiliki workshop di daerah Kiara Condong, Bandung, ini mengaku terinspirasi suasana romantis Desa Sampireun, Garut. Dia kemudian menuangkannya dalam bentukan klasik yang sarat detail, seperti embroidery dan kombinasi bahan lembut untuk memunculkan kesan romantis.
Sementara Toera Imara ingin mengangkat kesenian wayang golek yang eksotis dan penuh dengan aneka detail. "Semua itu mencerminkan kesenian khas Jawa Barat yang penuh pesona," tuturnya. Untuk itu, Toera banyak menggunakan aplikasi embroidery selain frills, ruffles, pleats, dan lace yang menjadikan rancangannya terlihat glamor.
Sumber: okezone.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar