Sabtu, 17 Oktober 2009

Multibudaya Kaum Urban

Kaum urban masa kini terciri dari sebuah kata,multibudaya. Mereka menerima berbagai budaya dunia dan memadukannya dalam satu penampilan apik.
Seperti yang disuguhkan Malik Moestaram dalam koleksi busana muslim bertema "Neo Geospace". Apa yang membuat desainer asal Bandung tersebut mengambil garis multibudaya tersebut dan kemudian memadukannya di satu panggung? Alasannya ternyata singkat saja. Malik ingin mempersembahkan citra yang berbeda bagi kaum muslimah urban masa kini.
"Saya ingin menyuguhkan sesuatu yang bergaya internasional," ujarnya dalam sebuah wawancara.
Untuk itu, Malik mengatakan, menerapkan tema Afrika sebagai unsur ornamen pada gaya berpakaian wanita modern bisa memberikan multicultural look yang tengah digemari pasar. Sementara untuk garis busana muslim, Malik tidak meninggalkannya begitu saja kendati berpegang pada jalur kontemporer. Busana muslim Malik hadir dalam siluet loose,flowy dan ceria dengan palet terang. Mengusung tema "Neo Geospace", Malik menghadirkan enam set busana dengan potongan geometris yang berkesan futuristik.
Warna-warna kuat seperti biru,hijau,biru gelap,serta nuansa warna bulu burung merak menggambarkan citra mulitikultur dengan segala keindahannya. Busana-busananya juga diperkaya dengan detail rimpel, embroidery, manik-manik,mutiara dan aksen belt Bidikan Malik memang bukan tanpa alasan. Dalam seminar tren mode 2010 versi Carlin International, organisasi perumus standar tren mode global, mengemuka bahwa universalitas akan menjadi arus besar tren yang akan membanjiri industri mode.
Dina Midiani, yang membawakan materi seminar tren tersebut mengatakan, standar baru akan universalitas itu lahir dari era baru dengan pola pikir baru. "Konsumen saat ini semakin berpikir modern,namun sekaligus mendasar pada hal-hal esensial. Mereka menyukai produk yang bisa melintasi batas, global, namun sekaligus menggenggam erat nilai lokal. Modernitas yang universal," celoteh Dina, yang juga berprofesi sebagai desainer ini. Rupanya, Malik Moestaram telah menilik standar tersebut dan menerapkannya dalam koleksi terbarunya.
Selain mengikuti arus tren mode global,Malik pun tetap berusaha mengembangkan kekuatan lokal dengan cara menggunakan produk domestik sebagai material koleksinya.
"Material yang saya gunakan didominasi bahan lokal, begitu juga dengan bahan-bahan pendukungnya," sebut desainer yang juga berprofesi sebagai koreografer ini.
Menurut dia, dengan menggunakan bahan lokal,berarti selain mengajak masyarakat lebih mengenal dan mencintai produk lokal, hal itu juga ramah lingkungan." Karena dengan menggunakan produk lokal, berarti kita mengurangi besaran jejak karbon dari impor material," ujarnya.
Sementara, berkaitan dengan krisis ekonomi, Malik mengakui bisnisnya tidak kebal dengan hal tersebut. "Memang terjadi penurunan penjualan,mungkin sekitar 25%,"ujarnya.Selain itu,desainer muda ini mengatakan, pada saat seperti ini jarang konsumennya yang berniat untuk membuat busana baru.
"Jarang orang bikin baru, makanya kami siasati dengan menghadirkan rancangan yang timeless, tapi harganya terjangkau," sebutnya.
Kendati demikian,Malik tidak lantas menurunkan kualitas. Malah dirinya tetap berkeras mempertahankan kualitas bahannya. "Kualitas bahan tetap kami pertahankan, hanya detail yang kami kurangi,"sebutnya.
Sumber: okezone.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar